Bekasi Bina TV –
Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di Jakarta pada Selasa, 21 Oktober 2025, bertepatan dengan genap satu tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Aksi tersebut menjadi momentum bagi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil untuk menyampaikan kritik dan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan selama satu tahun terakhir.
Aksi Terpusat di Jakarta Pusat
Berdasarkan pantauan lapangan dan laporan dari berbagai media nasional, ribuan mahasiswa mulai berkumpul di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, sejak pukul 10.00 WIB. Sebagian massa lainnya juga memusatkan aksi di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha dan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Mereka membawa spanduk dan poster dengan berbagai tuntutan seperti:
- “Tegakkan Keadilan, Wujudkan Pemerintahan Bersih”
- “Tolak Pelemahan Demokrasi”
- “Turunkan Harga dan Hentikan Komersialisasi Pendidikan”
Sejumlah perwakilan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menyatakan bahwa aksi ini merupakan peringatan moral bagi pemerintah, agar tetap berpihak kepada rakyat kecil dan tidak abai terhadap janji kampanye yang disampaikan pada tahun 2024 lalu.
Tuntutan Utama Mahasiswa
Dalam pernyataan sikapnya, para peserta aksi menyampaikan lima poin utama tuntutan, yaitu:
- Menolak segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan menuntut transparansi dalam pengelolaan anggaran negara.
- Menegaskan kembali komitmen pemberantasan korupsi, terutama memperkuat KPK yang dinilai makin lemah.
- Menuntut kebijakan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, termasuk pengendalian harga kebutuhan pokok dan BBM.
- Menolak kebijakan pendidikan tinggi yang mahal serta menuntut pemerataan akses pendidikan bagi seluruh warga negara.
- Mendesak perlindungan terhadap lingkungan dan hak masyarakat adat, terutama dalam proyek-proyek besar yang berdampak ekologis.
Juru bicara BEM SI, M. Alif Rahman, mengatakan aksi ini bukan bentuk permusuhan terhadap pemerintah, melainkan bentuk pengingat demokratis agar kebijakan yang diambil tidak menyimpang dari nilai-nilai reformasi.
“Kami datang bukan untuk melawan, tapi mengingatkan. Rakyat menaruh harapan besar kepada pemerintahan Prabowo-Gibran agar tetap adil, transparan, dan berpihak pada rakyat kecil,” ujar Alif dalam orasinya di depan Gedung DPR/MPR.
Pengamanan Diperketat
Pihak kepolisian menurunkan sekitar 1.000 personel gabungan untuk menjaga keamanan di sekitar area DPR/MPR dan Monas.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menyatakan bahwa aparat menerapkan pola pengamanan humanis dan persuasif, tanpa penggunaan senjata api.
“Kami mengedepankan dialog, bukan kekerasan. Tugas kami memastikan aspirasi masyarakat dapat disampaikan dengan aman dan tertib,” ujarnya.
Hingga siang hari, situasi di lokasi aksi terpantau kondusif dan tertib, meskipun sempat terjadi penyekatan lalu lintas di Jalan Gatot Subroto dan Jalan Medan Merdeka Barat.
Respons Pemerintah
Menanggapi aksi mahasiswa tersebut, pihak Istana melalui Kepala Staf Presiden (KSP) menyampaikan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan publik.
“Aspirasi mahasiswa kami dengar dan hargai. Pemerintah selalu membuka ruang dialog agar semua pihak bisa berkontribusi dalam membangun bangsa,” ujar perwakilan KSP dalam konferensi pers siang tadi.
Namun, pemerintah juga menegaskan bahwa sebagian isu yang diangkat mahasiswa sudah masuk dalam rencana kerja jangka menengah nasional dan tengah dievaluasi bersama kementerian terkait.
Kondisi Lalu Lintas dan Aktivitas Warga
Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat sejumlah ruas jalan di kawasan Senayan dan Monas dialihkan sementara selama aksi berlangsung.
Masyarakat diimbau untuk menghindari rute sekitar DPR/MPR, Patung Kuda, dan Monas, serta memanfaatkan transportasi umum seperti TransJakarta dan MRT untuk aktivitas hari ini.
Sementara itu, kualitas udara Jakarta juga dilaporkan berada pada level tidak sehat, sehingga warga diimbau untuk menggunakan masker ketika berada di luar ruangan.












