Sumatra utara

Massa Kecewa Bobby Nasution Tak Tampak Saat Demo Tutup PT TPL

423
×

Massa Kecewa Bobby Nasution Tak Tampak Saat Demo Tutup PT TPL

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Bina TV – Aksi demonstrasi yang menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari (TPL) berlangsung tegang di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Senin (10 Nop 2025). 10 ribu massa dari Aliansi Masyarakat Sipil menggelar aksi mulai jan 10 pagi, namun kecewa karena Wali Kota Medan yang juga menantu Gubernur, Bobby Nasution, tidak menemui mereka langsung.

Berdasarkan pantauan binatv.id di lokasi, aksi dimulai pukul 10.00 WIB. Massa yang terdiri dari petani, aktivis, dan mahasiswa membentangkan spanduk bertuliskan “Tutup PT TPL” serta “Selamatkan Lingkungan Hidup Sumut”. Mereka juga meneriakkan yel-yel menuntut keadilan. Aksi sempat agak ricuh karena beberapa kenaraan pendemo di kempeskan dan di derek Dishub Kota Medan namun akhirnaya dijaga ketat oleh aparat kepolisian.

Tuntutan Penyelesaian Lingkungan dan Sosial

Dalam orasinya, koordinator aksi, Ferdi Sianipar, menegaskan bahwa tuntutan penutupan TPL didasari oleh dampak operasional perusahaan yang dinilai telah merusak lingkungan dan mengabaikan hak-hak masyarakat adat.

“PT TPL telah menyebabkan kekeringan, pencemaran air Sungai Asahan dan sungai lainnya serta konflik agraria yang berkepanjangan. Masyarakat hidup dalam penderitaan. Kami mendesak Pemerintah Provinsi Sumut, dalam hal ini Pak Gubernur dan juga Bobby Nasution, untuk mengambil tindakan tegas dengan mencabut izin lingkungan dan operasi PT TPL,” tegas orator dari Universitas HKBP Nomensen.

Beberapa poin tuntutan yang diserahkan secara tertulis antara lain:

1. Pencabutan izin operasi dan izin lingkungan PT TPL secara permanen.
2. Penyelesaian konflik agraria dan pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat adat.
3. Pemulihan lingkungan hidup dan ekosistem yang telah rusak di kawasan operasi TPL.
4. Pertanggungjawaban perusahaan atas dampak kesehatan yang dialami masyarakat.

Massa Kecewa, Bobby Nasution Dikirimi “Pesan Khusus”

Ketegangan memuncak ketika massa mengetahui bahwa Bobby Nasution, yang diharapkan dapat mewakili pemerintah untuk menerima langsung tuntutan, tidak kunjung tampak. Setelah menunggu hampir dua jam, massa menyampaikan kekecewaan mereka.

“Kami datang dengan harapan didengar oleh pemimpin, tetapi Bobby Nasution tidak mau menemui kami. Ini menunjukkan bahwa suara rakyat kecil diabaikan,” ujar salah seorang peserta aksi.

Sebagai bentuk protes, massa secara simbolis “mengirimkan” Bobby Nasution dengan membawa poster dan foto yang diarak berkeliling. Mereka menyampaikan pesan satire, “Kalau Bobby tidak mau datang ke kami, kami yang ‘antar’ Bobby.”

Massa pengunjuk rasa terdiri dari GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), mahasiswa/i Universitas HKBP Nomensen Medan, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Komisariat UHN Medan, mahasiswa Universitas HKBP Nomensen Pematang Siantar, DPD Persaudaraan 98 Sumut, GAMKI Permatang Siantar, Horas Bangso Batak (HBB), massa GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), mahasiswa STT Pematang Siantar, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Persekutuan Perempuan Adat Nusantara Aliansi Adat Nusantara (Perempuan Aman), Forum Perjuangan Masyarakat (Forpemas) Habornas, Perhimpunan Bantuan dan Hai Azasi Manusia Indonesia (PBHI) Sumut dan berbagai aliasi.

Hingga aksi dibubarkan pukul 12.00 WIB, tidak ada pernyataan resmi lebih lanjut dari Bobby Nasution karena sedang berada di Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *