Ratusan Pelajar SMAN 1 Matauli Pandan Positif Omicron

Tapanuli Tengah Bina TV  – Sebanyak 186 pelajar SMAN 1 Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, dinyatakan positif Covid-19 varian baru Omicron.

Ratusan pelajar tersebut kini dikarantina secara mandiri di asrama sekolah di bawah pengawasan Satgas Penanganan Covid-19, bekerja sama dengan Polres Tapteng, Kodim 0211/TT, dan pihak SMAN 1 Matauli Pandan.

Bupati Tapteng, Bakhtiar Ahmad Sibarani didampingi Wakilnya Darwin Sitompul mendatangi lokasi karantina untuk menyemangati para siswa yang positif Covid-19 varian baru Omicron tersebut, pada Jumat (11/2/2022) malam sekitar pukul 21.15 WIB.

Para siswa mengaku baik-baik saja dan juga dalam keadaan sehat. Hanya saja demi menjaga keamanan dan protokol kesehatan (prokes), mereka harus dikarantina selama 10 hari, dan tidak diperkenankan keluar.

“Kedatangan kami bersama pak Dandim, Kapolres, Wakil Bupati dan Kepala Sekolah SMA Matauli untuk memberikan semangat kepada kalian semua, bahwa kalian tidak sendiri, ada kami bersama kalian,” kata Bakhtiar.

Bupati yakin lewat ujian tersebut, ada makna yang berarti untuk hidup mereka.

“Ini bukan penyakit memalukan atau aib yang harus disembunyikan, karena seluruh dunia sedang menghadapinya. Pemerintah juga sudah mengambil langkah-langkah menanggulanginya. Jadi, tetap semangat dan manfaatkan waktu istirahat kalian ini untuk tetap belajar dan berdoa,” pesannya.

Pada kesempatan itu juga, Bupati Bakhtiar berdialog dengan para siswa dan menanyakan makanan apa yang mereka inginkan. Sesuai dengan permintaan dari para siswa, Bupati Bakhtiar langsung memesan makanan dan minuman bergizi untuk mereka.

Tidak lupa para siswa pun mengucapkan terima kasih atas kunjungan Bupati Tapteng dan rombongan. Lewat kaca nako asrama, mereka melambaikan tangan kepada Bupati dan rombongan.

Akibat dikarantinanya 186 siswa siswi SMAN 1 Matauli Pandan, proses belajar tatap muka di sekolah itu pun untuk sementara dihentikan. Jika hasil pemeriksaan nanti sudah negatif, maka akan diatur kembali proses pembelajaran.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *